Laman

Jumat, 11 November 2011

Alasan Lampu Lalu Lintas dipasang secara Vertikal


Achmad Furqon_51409261_3IA04_DPG 2.3

Hubungan Grafis dan Budaya dalam Interaksi Manusia-Komputer part 3

Oi . . .Oi . . . Oi . . .

Disini saya masih akan membahas tentang asal usul dari lampu lalu lintas. Dimana tulisan saya sebelumnya mengupas tentang sejarah pamakaian warna merah, hijau, dan kuning pada lampu lalu lintas tersebut. Namun sekarang saya akan membahas tentang tata letak pada pemakaian warna yang terdapat di lampu lalu lintas. Penjelasan ini, juga masih berkaitan dengan hubungan antara grafis dan budaya pada Interaksi Manusia-Komputer (Lampu Lalu Lintas). Berikut ini adalah hasil rangkuman yang saya tulis dari sumber-sumber yang saya dapat. “Check This Out”………………

Alasan Kenapa Letak Lampu Merah di Atas, Kuning di Tengah dan Hijau di Bawah 

Seperti yang kita ketahui, warna yang digunakan untuk lampu lalu lintas adalah merah, kuning, dan hijau. Merah menandakan berhenti atau sebuah tanda bahaya, kuning menandakan hati-hati, dan hijau menandakan boleh berjalan.

Pada awal penemuannya sampai sekitar tahun 1950-an, banyak lampu lalu lintas, terutama di persimpangan perkotaan yang sibuk, dipasang secara horizontal, dan bukan vertikal seperti sekarang ini. 

Lampu Lalu Lintas Horizontal


Rancangan vertikal yang seperti sekarang, dengan lampu merah berada pada posisi paling atas dimaksudkan untuk memudahkan penderita buta warna. Selain itu, biasanya, lampu warna merah mengandung beberapa corak berwarna jingga, dan lampu hijau mengandung beberapa corak berwarna biru. Hal ini juga dimaksudkan agar orang dengan buta warna merah dan hijau dapat mengerti sinyal lampu yang sedang menyala. 





Lampu Lalu Lintas Vertikal


Selain itu, di Amerika Serikat, lampu lalu lintas memiliki tambahan pinggiran berwarna putih yang dapat menyala dalam kegelapan. Ini bertujuan agar membantu orang yang menderita buta warna dapat membedakan lampu kendaraan dengan lampu lalu lintas.

Disini saya juga menambahkan informasi mengenai sistem pengendalian lampu lalu lintas dimana sistem tersebut dikatakan baik jika lampu-lampu lalu lintas yang terpasang dapat berjalan baik secara otomatis dan dapat menyesuaikan diri dengan kepadatan lalu lintas pada tiap-tiap jalur. Sistem ini disebut sebagai actuated controller. Namun, para akademisi Indonesia telah menemukan sistem baru untuk menjalankan lampu lalu lintas. Sistem ini dikenal sebagai Logika fuzzy. Metode logika fuzzy digunakan untuk menentukan lamanya waktu lampu lalu lintas menyala sesuai dengan volume kendaraan yang sedang mengantre pada sebuah persimpangan. Hasil pengujian sistem logika fuzzy ini menunjukkan bahwa sistem lampu dengan logika ini dapat menurunkan keterlambatan kendaraan sebesar 48,44% dan panjang antrean kendaraan sebesar 56,24% jika dibandingkan dengan sistem lampu konvensional. Lampu lalu lintas pada umumnya dioperasikan dengan menggunakan tenaga listrik. Namun, sekarang ini karena arus perkembangan teknologi yang cepat (arus globalisasi), dikembangkanlah teknologi lampu lalu lintas dengan tenaga matahari.



Lampu Lalu Lintas Tenaga Matahari


Karena alasan ataupun kepentingan lainnya yang menghambat saya dalam penulisan ini,  maka hanya itu saja yang saya dapat informasikan dalam tulisan kali ini. Sehingga tulisan ini masih terdapat kekurangan. Maka dengan begitu apabila ada kata-kata atau kalimat yang kurang berkenan, mohon dimaafkan. Dan akhir kata, tidak lupa saya ucapkan “Kamsa Hamnida” untuk para pembaca yang telah membaca atau membuka blog saya. ^_^…………………………………………

Sumber referensi :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar