Achmad
Furqon_51409261_3IA04_DPG 2.3
Hubungan Grafis dan Budaya dalam
Interaksi Manusia-Komputer part 3
Oi . . .Oi .
. . Oi . . .
Disini saya masih akan membahas tentang asal usul dari lampu
lalu lintas. Dimana tulisan saya sebelumnya mengupas tentang sejarah pamakaian
warna merah, hijau, dan kuning pada lampu lalu lintas tersebut. Namun sekarang
saya akan membahas tentang tata letak pada pemakaian warna yang terdapat di
lampu lalu lintas. Penjelasan ini, juga masih berkaitan dengan hubungan antara
grafis dan budaya pada Interaksi Manusia-Komputer (Lampu Lalu Lintas). Berikut
ini adalah hasil rangkuman yang saya tulis dari sumber-sumber yang saya dapat. “Check This Out”………………
Alasan Kenapa Letak Lampu Merah di
Atas, Kuning di Tengah dan Hijau di Bawah
Seperti yang kita ketahui, warna yang
digunakan untuk lampu lalu lintas adalah merah, kuning, dan hijau. Merah
menandakan berhenti atau sebuah tanda bahaya, kuning menandakan hati-hati, dan
hijau menandakan boleh berjalan.
Pada awal penemuannya sampai sekitar
tahun 1950-an, banyak lampu lalu lintas, terutama di persimpangan perkotaan
yang sibuk, dipasang secara horizontal, dan bukan vertikal seperti sekarang
ini.
Lampu Lalu Lintas Horizontal
Rancangan vertikal yang seperti
sekarang, dengan lampu merah berada pada posisi paling atas dimaksudkan untuk
memudahkan penderita buta warna. Selain itu, biasanya, lampu warna merah
mengandung beberapa corak berwarna jingga, dan lampu hijau mengandung beberapa
corak berwarna biru. Hal ini juga dimaksudkan agar orang dengan buta warna
merah dan hijau dapat mengerti sinyal lampu yang sedang menyala.
Lampu Lalu Lintas Vertikal
Selain itu, di Amerika Serikat, lampu
lalu lintas memiliki tambahan pinggiran berwarna putih yang dapat menyala dalam
kegelapan. Ini bertujuan agar membantu orang yang menderita buta warna dapat
membedakan lampu kendaraan dengan lampu lalu lintas.
Disini saya
juga menambahkan informasi mengenai sistem pengendalian lampu lalu lintas
dimana sistem tersebut dikatakan baik jika lampu-lampu lalu lintas yang
terpasang dapat berjalan baik secara otomatis dan dapat menyesuaikan diri
dengan kepadatan lalu lintas pada tiap-tiap jalur. Sistem ini disebut sebagai
actuated controller. Namun, para akademisi Indonesia telah menemukan sistem
baru untuk menjalankan lampu lalu lintas. Sistem ini dikenal sebagai Logika fuzzy.
Metode logika fuzzy digunakan untuk menentukan lamanya waktu lampu lalu lintas
menyala sesuai dengan volume kendaraan yang sedang mengantre pada sebuah
persimpangan. Hasil pengujian sistem logika fuzzy ini menunjukkan bahwa sistem
lampu dengan logika ini dapat menurunkan keterlambatan kendaraan sebesar 48,44%
dan panjang antrean kendaraan sebesar 56,24% jika dibandingkan dengan sistem
lampu konvensional. Lampu lalu lintas pada umumnya dioperasikan dengan
menggunakan tenaga listrik. Namun, sekarang ini karena arus perkembangan
teknologi yang cepat (arus globalisasi), dikembangkanlah teknologi lampu lalu
lintas dengan tenaga matahari.
Karena alasan ataupun kepentingan
lainnya yang menghambat saya dalam penulisan ini, maka hanya itu saja yang saya dapat informasikan
dalam tulisan kali ini. Sehingga tulisan ini masih terdapat kekurangan. Maka
dengan begitu apabila ada kata-kata atau kalimat yang kurang berkenan, mohon
dimaafkan. Dan akhir kata, tidak lupa saya ucapkan “Kamsa Hamnida” untuk para pembaca
yang telah membaca atau membuka blog saya. ^_^…………………………………………
Sumber referensi :



Tidak ada komentar:
Posting Komentar